23 Maret 2011

TABLIGH AKBAR DI NIAS


Kehadiran Sentra Dakwah Hidayatullah, sesuai dengan namanya selalu mengupayakan terselenggaranya gerakan dakwah di bumi pertiwi ini, khususnya di Sumatera Utara. Kali ini yang menjadi sasaran dakwah adalah Pulau Nias yang jumlah muslimnya minoritas, hanya 4% dari total penduduk yang ada. Selebihnya adalah non muslim yang notabene adalah katholik militan. Dinias inilah para pendeta dari Kota Medan banyak datang untuk melakukan pembinaan masyarakat katholik. Hasil silaturrhmi dan bincang bincang kami dengan penduduk asli, dimana beliau mengatakan kepada kami , bahwa akan di cetak secara besar -besaran kitab injil versi baru di Pulau ini untuk mendukung program kristenisasi di Indonesia. tentang benar dan tidaknya informasi ini , yang jelas kaum kristen katholik disini cukup besar. Disisi lain ummat Islam yang menjadi kelompok minoritas terlihat kurang pembinaan keislaman mereka. Banyak pihak , maksudnya muslim Nias dari kelompok orang - orang tua atau pendahulu mereka yang menghawatirkan generasi mereka bakal terseret oleh arus kristenisasi yang ada disana. Sehingga para tokoh Masyarakat yang muslim sering meminta bantuan kepada organisasi - organisasi Islam atau lembaga - lembaga dakwah dan pengajaran Islam yang ada di luar Nias untuk melakukan dakwah di tengah - tengah mereka. termasuk yang paling sering aadalah Hidayatullah. Maka pada tanggal 20 s/d 25 Februari 2011 yang lalu team Dakwah Yayasan Sentra Dakwah berangkat menuju Pulau Nias. Alhamdulillah malam tanggal 21 Februari 2011 diselenggarakan dialog Pimpinan Yayasan Sentra Dakwah Hidayatullah untuk mengurai permasalahan ummat Islam disana sekaligus membangun kesepakatan bersama para da'i dari berbagai organisasi Islam yang ada dan sedang melakukan pembinaan Iman dan Taqwa masyarakat.
Tanggal 21 siang di lanjut dengan Tabligh akbar di pusat wisata pantai " Marina Bech Garden" milik seorang muslim disana. Acara berlangsung sangat meriah dan semarak, diikuti kurang lebih lima ratus orang dari berbagai lapisan masyarakat dan dari berbagai tempat. Satu - satunya pembicara dalam Tabligh Akbar tersebut adalah Pimpinan Yayasan Sentra Dakwah Hidayatullah Meda. Sambutan sangat meriah dan penuh semangat.

02 Januari 2011

HIJRAH SUPER CAMP HIDAYATULLAH 2010

Pada tanggal 31 Desember 2010, Yayasan Sentra Dakwah Hidayatullah ( Pondok Pesantren Hidayatullah ) Medan Polonia, menyelenggarakan sebuah kegiatan " Hijrah Super Camp For The Young Moslems Generation Of Hidayatullah". Thema kegiatan adalah " Menghempang Sekuarisme Peringatan Malam Tahun Baru Masehi". Kegiatan ini mengandung kalimat " Hijrah", karena penyelenggaraannya masih berada di dalam bulan Muharram ( Bulan Hijrah Nabi ) Disamping itu Kata " Hijrah" itu sendiri memiliki arti meninggalkan budaya merayakan malam tahun baru masehi yang kental dengan nuansa ritual Yahudi maupun Nasrani. Jadi kegiatan ini di desain bernuansa Islami dan erat kaitannya dengan peringatan Hijrah nabi SAW. bentuk acaranya dibuat relax, rekreati, edukatif sekaligus bernuansa spiritual. Misalnya disamping para peserta melaksanakan kegiatan Camping dan tidur di tenda - tenda, tetapi juga dibuat acara kajian Islam dan Muhasabah di tengah malam dilanjutkan dengan tahajjud bersama. Pada pagi harinya para peserta mengikuti game - game yang dibuat oleh panitia dalam rangka menumbuhkan rasa kebersamaan, hidup berjama'ah, tolong menolong, saling bahu membahu. Menumbuhkan keakraban diantara sesama, cerdas dan cekatan serta tanggap terhadap segala persoalan. Peserta terdiri dari para remaja masjid, santri, siswa siswi madrasah aliyah dan SMU di sekitar kota Medan. Jumlah peserta ketika itu sebanyak 250 orang. Kegiatan ini memang cukup memakan dana yang lumayan besar , tetapi insya Allah hasulnya akan terkenang di benak para remaja dan generasi muda ini. Utamanya materi kajian yang di padu dengan Game- game yang menyenangkan tetapi tidak terasa telah membentuk watak dan kepribadian para kawula muda ini. ( Maaf Tanggal dalam Foto ini tertulis tahun 2007, karena salah Setting Kamera)










25 Desember 2010

KEWAJIBAN MEMPELAJARI, MENGHAYATI, MENGAMALKAN DAN MENGAJARKAN AL-QUR’AN

Allah yang telah mengutus para rasul-Nya sebagi : “ Pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu “(an-nisa’:156). Dia mengakhiri para rasul itu dengan Nabi yang ummi, sejak diangkat hingga hari kiamat.
Allah Ta’ala berfirman ,” Katakanlah,’Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua , yaitu Allah yang mempunyai kerajan langit dan bumi ;tidak ada tuhan (yang berhak disembah ) selain Dia,yang menghidupkan dan memamtikan, maka berimanlah kamu kepad Allah dan rasul-Nya ,Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk’’’(al-A’raf:158).
Dan Allah Ta’ala berfirman,
“…supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai kepadanya Al-Qur’an …”(al-An’am:19)
Maka barang siapa yang sampai kepadanya Al-Qur’an –baik dia orang arab, non-arab,kulit hitam, kulit putih, jin, maupun manusia –maka Al-Qur’an diturunkan berfungsi sebagai pemberi peringatan.
Allah pun berfirman : “…dan barang siapa diantara mereka ( orang-orang Quraisy ) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepad Al-Qur’an, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya …”(Hud:17)
Allah juga mendorong hamba-hamba-Nya supaya memahami Al-Qur’an. Dia berfirman ,” Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur’an ? Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak didalamnya.” (An-Nisa’:82)
Allah juga berfiraman, : “ Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran.”(Shad:29)
Allah berfirman : “ Maka apakah mereka tidak memperhatikan A-Qur’an ataukah memang hati mereka yang terkunci ?” ( Muhammada:24 )
Yang menjadi kewajiban para ulama ialah mengungkapkan makna-makna firman Allah, menafsirkan, mencari dari tempat ( orang ) yang diduga layak (ahli), mempelajari, dan mengjarkannya.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan ( ingatlah ) , ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab ( yaitu ),’Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya ,lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukar menukar yang mereka lakukan.”( Ali’Imran:187 )
Allah berfirman dalam ayat yang lain : “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji-(nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sediki, mereka itu tidak akan mendapatkan bagian ( pahala ) di akhirat, dan Allah tidak berkat-kata dengan mereka, tidak akan melibat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak ( pula ) akan menyucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.”(Ali’Imran:77)
Sesungguhnya Allah telah mengancam Ahli Kitab sebelum kita, karena mereka berpaling dari kitab Allah yang diturunkan kepada mereka dan karena mereka sibuk dengan perkara yang tidak diperintahkan oleh Allah sehingga mereka tidak bisa mengikuti kitab-Nya. Oleh karena itu, kaum mislimin, kita harus menghentikan segala hal yang menjadi sebab Allah mencela Ahli Kitab dan kita harus menjalankan apa yang diperitahkan-Nya, yaitu mempelajari Kitab Allah yang diturunkan kepada kita dan mengajarkannya serta memahami dan memahamkannya kepada orang alin.
Allah Ta’ala ber firman, : “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka maengingat Allah dan tunduk kepada kebenaran yang telah turun ( kepada mereka ), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-kitab kepadaya, namun kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran ( Kami ) supaya kamu memikirkanya,”(al-Hadid:16-17)
Ayat diatas mengandung peringatan bahwa sebagaimana Allah Ta’ala menghidupkan bumi setelah kematinya, demikian pula Allah melembutkan hati manusia dengan munculnya keimanan dari dalam dirinya dan memberinya hidayah setelah hati itu mengeras. Hanya kepada Allah lah kita memohon kiranya Dia melunakkan hati kita. Sesungghnya Dia Maha dermawan dan Maha Memberi.